Pembangkit Listrik Konvensinal

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Konvensional


Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tipe Konvensional

Gambar 1. Diagram PLTP tipe atmospheric (back-pressure) (Digambar ulang dari Dickson dan Fanelli, 2004).

Pada tipe Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) konvensional dibutuhkan suhu fluida paling tidak sebesar 150OC dan dapat menggunakan kondisi keluaran turbin tipe atmospheric (back-pressure) atau condensing. Tipe back-pressure mempunyai bentuk yang sederhana dan lebih murah. Uap yang berasal langsung dari sumur dengan uap kering atau dari proses flashing dari separator untuk sumur basah dialirkan ke turbin dan kemudian dikeluarkan ke udara/atmosfer (Gambar 1).

 

 

 

 

 


Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tipe Konvensional

Gambar 2. Diagram PLTP tipe condensing (Digambar ulang dari Dickson dan Fanelli, 2004).

Dengan tipe ini, konsumsi uap (dari tekanan inlet yang sama) per kWh yang dihasilkan hampir dua kali dari tipe condensing. Meskipun demikian, tipe ini sangat bermanfaat sebagai pilot plant, stand-by plant, untuk sumur-sumur terisolasi atau untuk pembangkitan listrik dari sumur uji selama pengembangan lapangan. Tipe ini sederhana dan relatif cepat pemasangannya dan pada umumnya tersedia untuk ukuran kecil (2,5 – 5 MWe).

Tipe condensing mempunyai peralatan tambahan yang lebih banyak, lebih kompleks, ukuran lebih besar dan memerlukan waktu lebih lama (dua kali) untuk konstruksi dan pemasangannya dibandingkan dengan tipe back-pressure. Namun demikian, konsumsi uap tipe ini kurang lebih setengah dari tipe back-pressure. Pada umumnya kapasitas satu unit power plant tipe condensing adalah 55 – 60 MWe, tetapi saat ini banyak power plant yang dibangun dengan kapasitas 110 MWe (Gambar 2).

 

 


Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong

Gambar 3. PLTP Lahendong. Fotografi: I Wayan Warmada

Salah satu Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) konvensional yang sudah beroperasi di Indonesia adalah PLTP Lahendong (Gambar 3). PLTP ini beroperasi sejak tanggal 21 Agustus 2001 diawali dengan pengoperasian PLTP Unit-1. Hingga saat ini total kapasitas pembangkitan di Area Lahendong mencapai 80 MWe yang masing-masing terdiri dari 4 Unit PLTP dengan kapasitas tiap unit 20 MWe. PLTP Lahendong merupakan unit pembangkit terbesar dan memberikan kontribusi sistem kelistrikan di Sulawesi Utara sebesar 60%.

menca

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *